Resiko Penggunaan Antibiotik pada Pasien Covid-19, Ini Kata WHO!

Resiko Penggunaan Antibiotik pada Pasien Covid-19, Ini Kata WHO! – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memaparkan mengenai penggunaan obat pada pasien Covid-19. Melalui series Science in 5 WHO, Jumat (19/11/2021), Asisten Direktur Jenderal Resistensi Antimikroba WHO dr Hanan Balkhy menjelaskan risiko penggunaan antibiotik yang tidak diresepkan. Antibiotik hanya diresepkan pada pasien Covid-19 dengan gejala tertentu saja.

Berikut peringatan WHO tentang penggunaan antibiotik pada pasien Covid-19: Adanya penggunaan berlebihan Balkhy menegaskan, antibiotik adalah obat yang berguna dalam mengobati infeksi bakteri dan bukan infeksi virus. Sementara, Covid-19 atau SARS-CoV-2 disebabkan karena infeksi virus corona. Infeksi virus ini bisa menyebabkan gejala ringan di mana pasien tinggal di rumah atau di komunitas, sementara mereka yang mengalami gejala sedang atau berat dirawat di rumah sakit.

Beberapa dari mereka, bahkan mungkin dirawat di unit perawatan intensif. “Namun permasalahannya dengan banyaknya pasien Covid-19, penggunaan antibiotik oleh petugas kesehatan menjadi semakin banyak, sehingga terjadi penggunaan antibiotik yang berlebihan saat tidak diperlukan,” kata Balkhy. Lebih lanjut, Balkhy juga menjelaskan, ketika pasien dirawat di rumah sakit dan mereka mulai mengalami kompleksitas dari penyakit penyerta, maka mereka bisa mengalami risiko infeksi super bakteri.

Bahkan ketika berada di unit perawatan intensif, mereka juga rentan untuk mengalaminya. Maka dari itu, WHO mengeluarkan rekomendasi terkait aturan pemberian antibiotik pada pasien. “WHO memang mengeluarkan rekomendasi tentang kapan harus menggunakan antibiotik dalam perjalanan pasien SARS-CoV-2, dan itu biasanya dalam klasifikasi penyakit sedang hingga parah dari penyakit ini,” kata Balkhy menjelaskan. Bahaya penggunaan antibiotik tanpa resep Akibat informasi yang simpang siur, orang-orang mulai banyak menggunakan antibiotik tanpa resep.

Alasan mereka menggunakan antibiotik biasanya karena mendengar informasi dari keluarga atau teman penyintas Covid-19, bahwa obat itu manjur mengatasi gejala. “Sementara antibiotik perlu diresepkan oleh penyedia layanan kesehatan berlisensi untuk memberikan diagnosis yang tepat, dengan dosis yang tepat, dengan durasi yang tepat, dan ini sangat penting,” kata Balkhy. Selanjutnya, menurut Balkhy penggunaan antibiotik secara tidak rasional malah akan mengakibatkan bakteri menjadi semakin resisten.

“Kita sudah berada di era, apa yang kita sebut era pasca antibiotik di mana beberapa antibiotik kita yang paling umum dan kuat tidak lagi efektif, dan jenis perilaku ini terus memicu peningkatan resistensi di antara bakteri,” kata dia. Maka dari itu, penting untuk menyadarkan masyarakat luas untuk berhati-hati mengkonsumsi antibiotik.

Setiap obat antibiotik yang wajib diberikan melalui resep dan harus ditanggapi dengan serius. “Dan jika mereka diberi resep, mereka benar-benar harus menyelesaikan pengobatan. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat atau tidak rasional ini, seperti yang saya katakan, hanya akan mendorong perkembangan resistensi bakteri ini lebih lanjut,” kata Balkhy lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *