TNI Polri Diminta Terus Buru Kelompok Bersenjata Papua

Keberhasilan tim gabungan TNI Polri menyelematkan 345 warga yang disandera Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Desa Kimbely dan Utikini, Papua, patut diapresiasi. Namun, aparat harus terus memburu kelompok tersebut.

“Saya mengapresiasi kerja keras dan kekompakan yang ditunjukan TNI-Polri. Tapi, aparat keamanan harus terus memburu kelompok tersebut agar kelompok itu tidak berkembang lagi,” kata Wakil Ketua Komisi I DPR, T.B. Hasanuddin dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 18 November 2017.

Dia mengungkapkan, diperlukan strategi matang untuk menangkap kelompok kriminal bersenjata tersebut. Sebab, kelompok itu memiliki senjata standar militer. Apalagi, mereka berani menantang perang terbuka.

“Pengejaran jangan diartikan menumpas tuntas atau membunuh. Aparat tetap mengedepankan cara persuasif, meminta mereka menyerahkan diri dan senjatanya,” kata TB Hasanuddin.

TB Hasanuddin menyarankan, TNI Polri menyertakan Komnas HAM. Dengan demikian, Komnas HAM dapat memahami situasi di lapangan. “Mungkin saja kelompok bersenjata itu bisa diajak bicara baik-baik bila ada Komnas HAM,” katanya.

Bila kelompok bersenjata itu tidak mengindahkan permintaan aparat, mereka harus ditindak tegas. “Komnas HAM kan tahu sendiri kondisi di lapangan, sehingga tidak menyalahkan tindakan-tindakan yang dilakukan aparat,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, sebanyak 1.300 orang dari dua desa, yakni Desa Kimbely dan Desa Banti, Kecamatan Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, dilarang keluar dari kampung oleh kelompok bersenjata.

Dari 1.300 orang yang tersandera, petugas gabungan TNI dan Polri berhasil menyelamatkan 345 warga desa Kimberly dan Utikini, Papua, pada Jumat 17 November 2017.

Berdasarkan data sementara, masyarakat yang diselamatkan adalah 104 laki-laki, 32 perempuan, dan 14 anak-anak. Total ada 344 orang yang berasal dari Desa Kimbely. Kemudian menyusul 153 laki-laki, 31 perempuan, dan 10 anak-anak yang berada di wilayah longsoran.