Rektor Unipar Jember Mengundurkan Diri Dituding Lakukan Pelecehan Seksual

Rektor Unipar Jember Mengundurkan Diri Dituding Lakukan Pelecehan Seksual – Rektor Universitas IKIP PGRI Argopuro (Unipar) Jember berinisial RS resmi mengundurkan diri dari jabatannya, Jumat (18/6). RS sebelumnya dilaporkan oleh salah seorang dosen perempuan, telah melakukan pelecehan seksual. Pengunduran diri tersebut disampaikan secara resmi oleh Yayasan IKIP PGRI Jember.

Kepala Biro III Unipar, Dr Ahmad Zaki Emyus mengatakan, RS mundur dari jabatan rektor atas permintaan pihak yayasan. “Jadi beliau (rektor Unipar) menanggalkan jabatannya, agar kampus tidak turut terseret ke dalam masalah dugaan tindakan (pelecehan seksual) tersebut. Jadi pada dasarnya, apa yang dilakukan RS merupakan tanggung jawab pribadi, enggak ada kaitannya dengan institusi,” kata Zaki.

Berdasarkan informasi yang dihimpun wartawan korban merupakan salah salah satu dosen perempuan berinisial H. Peristiwa pelecehan tersebut diketahui oleh suami korban. Zaki menjelaskan, pengunduran diri rektor sudah dibahas dalam pertemuan pihak yayasan. RS dinilai telah melanggar peraturan pokok kepegawaian, pasal 20 ayat 1, 2, dan 3. “Yang secara jelas menyebutkan bahwa bagi para pejabat yang melakukan pelanggaran berat, maka harus mengundurkan diri,” ucapnya.

RS juga sudah menyatakan mengundurkan diri per tanggal 17 Juni 2021. “Yang kemudian saat ini, secara resmi juga, sudah digantikan oleh Budi Hadi Prayogo,” ungkapnya. Terkait tuduhan pelecehan seksual terhadap mantan rektor RS, Zaki yang mewakili pihak yayasan Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Unipar Jember itu menyatakan tetap menjunjung tinggi asas praduga tidak bersalah sampai ada putusan hukum tetap.

“Kami, PPLP PT IKIP PGRI berkomitmen melindungi semua civitas akademika. Kami dari pihak yayasan, juga berupaya ingin membentuk Women Study Gender (WSG), dalam rangka mengamankan seluruh dosen dan karyawan,” tegasnya. “Jadi, ada pesan dari para sesepuh yayasan, bahwa bagaimanapun kita ini merupakan keluarga besar, yang bertanggung jawab saling membina,” tegasnya.

Terhadap korban, pihak kampus menyatakan berupaya melindungi serta mendampingi agar hak-haknya terpenuhi. “Misalkan, korban tetap bisa menjalankan aktivitas mengajar seperti biasanya,” ucapnya. “Selain itu, korban dipersilakan menempuh jalur hukum untuk menuntut keadilan. Sedangkan, perlakuan yayasan terhadap RS, dipastikan secara institusional tidak bakal melakukan pembelaan hukum,” katanya.

Sebelumnya dikabarkan, seorang petinggi kampus diadukan lewat surat resmi ke pihak Unipar Jember oleh suami korban karena melakukan pelecehan seksual terhadap seorang dosen perempuan. Pelecehan seksual tersebut diperkirakan terjadi antara rentang waktu 4-5 Juni 2021 lalu. Ketika itu ada kegiatan di luar kota menuju Tretes, Kabupaten Pasuruan untuk menghadiri acara Diklat dari PGRI Jawa Timur.

Saat itu korban mengalami pelecehan di dalam mobil, yang satu mobil dengan pelaku. Padahal, dalam kendaraan tersebut terdapat dua orang lain yang menyaksikan sekaligus mendengar kejadian. Saksi pertama sopir dan seorang lelaki sesama staf pengajar Unipar. Pelecehan disebut tidak hanya berhenti saat itu dan berlangsung kekerasan seksual hingga di lokasi acara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *